PENGOLAHAN SINGKONG ( UBI KAYU ) KAPASITAS HOME INDUSTRI

Selama ini masyarakat petani singkong untuk menjual hasil panen sangat mengandalkan pedagang, system tata niaga hasil panen singkong belum begitu banyak memberi dampak bisa meningkatnya pendapatan petani, maka dari itu mari kita coba berfikir untuk menggali potensi yang yang lebih dalam dengan mencari produk produk yang dapat dihasilkan dari singkong

PRODUK YANG DI HASILKAN DARI SINGKONG

1. CASSAVA CHIP

Cassava CHip adalah hasil produk yang paling dekat dan paling mudah untuk dikerjakan oleh petani sendiri atau secara berkelompok untuk meningkatkn nilai sampai 25 % dari harga singkong hasil panen dan juga bisa membuka lapangan kerja walaupun jumlahnya relatif sedikit dapat menyerap tenaga kerja, kalau kita pelajari sebetulnya untuk daerah tertentu di wilayah RI sudah menjadi tradisi atau budaya pada saat panen raya petani membuat gaplek seperti yang telah saya kunjungi dan lihat di daerah Jawa di Kab. Gunung kidul, Kab. Wonogiri, Kab. Pacitan dan sekitarnya, di wilayah Sulawesi Selatan ada di Kab. Jeneponto, Kab. Takalar, Kab. Buluk kumba dan Kab. Gowa dan sekitarnya masyarakat petani singkong sudah terbiasa membuat gaplek pada saat musim panen raya, sayangnya karena lemahnya pengetahuan baik proses produksi maupun pemasaran membuat kwalitas dan daya saing kurang memberi nilai tambah untuk petani bahkan kalau di pelajari cenderung merugikan dan semakin menurunkan nilai tambah hasil panen singkong

Untuk itu mari kita bangkit untuk mulai belajar mengolah hasil panen singkong secara berkelompok, dengan tujuan meningkatkan nilai tambah hasil panen singkong dan mengurangi atau membuka lapangan kerja baru di pedesaan

Proses produksi cassava chip

image

Gambar diatas adalah alat produksi cassava chip kapasitas 8 ton singkong perhari produk cassava chip kwalitas export dan pasarnyapun masih terbuka lebar

2. TEPUNG TAPIOKA

Tepung tapioka bagi merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat, hampir disetiap daerah diseluruh wilayah membutuhkan tepung tapioka, tepung tapioka biasa dibuat bakso, kerupuk, aneka makanan ringan, dan banyak sekali yang dapat dibuat dengan bahan tepung tapioka, yang lebih menarik tepung tapioka dapat menciptakan pengusaha – pengusaha kecil dan menengah didaerah, akan tetapi sayangnya tepung tapioka belum diproduksi di wilayah – wilayah luar jawa, padahal kebutuhannya sangat besar,
Disatu sisi lahan pertanian sangatlah luas, alangkah baiknya mari kita sama – sama mencoba untuk memproduksi tepung tapioka walaupun sekala kecil atau home industri untuk memenuhi pasar disekitar wilayah kita sendiri

tapioka2

meain tapioka scala home industri 5 ton singkong perhari

tapioka4

hasil poduksi tepung tapioka kwalitas super

tapioka3

onggok ampas singkong untuk produksi pakan ikan atau ternak

MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN

Setiap hari mungkin kita selalu mendengar atau bahkan mungkin kita ucapkan kata kemandirian, kedengarannya mudah untuk menterjemahkan kata kemandirian yang secara umum diartikan mengurangi atau bahkan tidak bergantung pada pihak lain yang ada disekitar kita, nah untuk kali ini saya akan mengingatkan kalau kita mau memahami kemampuan dan potensi yg kita miliki akan membuat kita tidak bergantung pada pihak lain dalam tulisan ini saya akan fokuskan membahas kemandirian secara umum yang malibatkan masyarakat luas dalam satu desa yang selanjutnya saya sebut  DESA MANDIRI.

Dalam kehidupan masyarakat pedesaan terutama yang ada dipedalaman terkadang untuk memenuhi kebutuhan harus mengeluarkan biaya yang tinggi terutama kebutuhan pangan, sarana produksi pertanian yang selama ini bergantung dengan produk – produk kimia baik pupuk ataupun pestisida dan juga kebutuhan energy, untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut masyarakat pedesaan harus mengeluarkan biaya yang semakin hari semakin meningkat apalagi soal energy untuk kebutuhan bahan bakar dan penerangan sekarang semakin mahal seiring dengan naiknya bahan bakar minyak ( bbm ) yang berdampak pada naiknya berbagai kebutuhan dasar masyarakat.

Padahal disadari atau tidak

TANAMAN KORO PEDANG ( CANAVALIA ENSIFORMIS )

TANAMAN KORO BY DWI TELO

Tanaman koro pedang

Satu bulan belakangan ini saya selalu terfikirkan tentang tanaman koro pedang, ingin rasanya segera tahu ada apa dengan koro pedang, setelah bertemu dengan beberapa teman dilapangan dan melihat, memegang dan sampai menanam walau dengan beberapa kilogram benih yang saya dapatkan dari Bu Sri dan Pak Agus dari Lembaga Damar Sindoro Sumbing ( DSS ) kabupaten Temanggung yang sekarang sudah mulai tumbuh mebuat keyakinan saya makin kuat bahwa inilah tanaman yang ideal untuk memulai memberikan kontribusi nyata kepada petani, terutama petani didaerah – daerah gersang di lahan marjinal sekalipun, dengan sedikit pengetahuan tentang kacang koro pedang yang saya dapatkan dari beberapa sumber saya coba untuk menuliskannya

Kacang Koro Pedang, unik memang namanya kacang kok pedang, bulat kok panjang itu kira – kira orang awam mengartikannya, entah apa yang ada difikiran kita dalam mengartikan nama itu, yang pasti ini adalah tanaman yang mudah budidayanya tapi kurang diminati, padahal untuk budidaya koro pedang tidak diperlukan modal banyak, itung – itungan kasarnya dalam 1 hektar membutuhkan benih sekitar 30 kg dengan harga Rp 15.000 berarti sekitar Rp. 450.000,- ditambah kompos 2 ton dengan harga Rp 300,- = Rp. 600.000 ditambah Dekompozer HIJAU SUBUR 4 liter dengan harga Rp. 45.000 = Rp. 180.000 dan POC TABUR MAS HIJAU SUBUR 6 liter dengan harga Rp. 35.000 = Rp. 210.000,- kalau ditotal untuk kebutuhan benih + pupuk Rp. 450.000 + Rp. 600.000,- + 180.000,- + Rp. 210.000 = Rp. 1.440.000,- ditambah biaya tenaga kerja Rp. 2.500.000,- jadi total Rp. 3.940.000,- akan lebih irit lagi kalau tenaganya sendiri hehehehe….. akan menghasilkan minim – minimnya 4 ton dengan harga Rp. 3.000,- akan mendapatkan uang Rp. 12.000.000,- dalam waktu 4 bulan lumayan lah dari pada dibawah tanaman albasia, jati atau tanaman kebun lainnya biasanya hanya tumbuh rumput masih mending tumbuh koro pedang itung – itung buat tambahan sambil nunggu tanaman intinya dapat dipanen

TANAMAN KORO PEDANG DIBAWAH TANAMAN KARET
seperti gambar diatas adalah tanaman koro pedang dibawah tanaman karet yang masih berusia 5 bulan, sambil menunggu tanaman karetnya nyadap sudah dapat uang duluan dari koro pedang, yang mana setelah saya amati ternyata tanaman karet yang ditumpangi sari sama koro pedang pertumbuhannya lebih bagus daripada yang ditumpangsari dengan tanaman lain ataupun dengan yang tidak ditumpangsari, setelah kami amati dan coba belajar tentang mikroba dan dikaitkan dengan keadaan dilahan maka saya punya kesimpulan ada benarnya kalau tanaman karet pertumbuhannya lebih bagus dibanding ditumpangsari dengan tanaman lain karena bahwa tanaman kacang – kacangan justru akan menjadi tepat bernaung ( bahasa kasarny ) bakteri penambat N simbiotik kata para ahli, yang mana bakteri itu dapat menghasilkan N dan sisa atau kelebihan N yang ada dapat pula diserap oleh tanaman inti jadi walaupun tanaman intinya tidak dipupuk jadi ikut subur sungguh ini adalah keagungan Allah swt yang patut kita syukuri dan memanfaatkannya lebih maximal, sehingga dengan membudidayakan tanaman koro dilahan – lahan marjinal akan membantu pendapatan kantong petani sekaligus dapat ikut membantu menyuburkan tanah

setelah kita tahu itung -itungan kasar berapa Rp yang akan kita keluarkan dan berapa Rp yang akan kita dapatkan juga sekaligus manfaat lain berikut ini akan saya uraikan sedikit manfaat apa yang akan didapat untuk kehidupan manusianya
didalam koro pedang ternyata tersimpan kandung – kandungan yang hampir mirip atau mungkin sama dengan kacang kedelai yang sampai hari ini kita masih import karena sangat sulit dikembangkan di indonesia yang konon katanya karena faktor genetika atau iklim yang jelas belum ada biaya untuk meneliti, karena lebih mudah mengimport
mari kita sama – sama bandingankan kandungan koro pedang dengan kedelai
koro pedang kedelai gizi/satuan
389 244 kalori/Cal
27,4 39 protein/gram
47,8 19,6 lemak/gram
3,1 4,7 serat/gram
35,1 (min ) 25,1 kalsium/mlg
339 580 fosfor/mlg
9,7 10,8 besi/mlg
40 – Natrium/mlg
848 467 kalium/mlg
14,4 11 betakarotin/mlg
0,73 0,73 thiamine/mlg
0,15 0,14 riboflavin/mlg
3,50 2,44 niasin/mlg
2,0 – asam askorbat

nah dari perbandingan diatas sebetulnya ga beda – beda amat khan, yang bisa jelaskan tentunya ahli gizi jadi maklum saya tidak bisa lebih detailkan….

hasil olahan koro pedang, ada tempe, krupuk tepung dan kue kering

 

 

 

 

mencicipi susu koro pedang dan brownis koro pedang juga

nah nyata sudah kalau koro pedang juga bisa menggantikan tepung etrigu, tapioka dan kedelai

begitulah kira – kira sekilas tentang koro pedang walau tulisan apa adanya dan sangat sederhana semoga dapat memotifasi diri kita untuk mengembang apa yang ada disekitar kita sekaligus untuk memanfaatkan lahan – lahan kritis yang ada di bumi pertiwi, untuk menuju kemandirian baik pangan dengan mengembangkan koro pedang dan kemandirian energi dengan mengembangkan energy terbarukan dan ramah lingkungan, terima kasih kepada pengurus DAMAR SINDORO SUMBING yang sudi memberikan masukan semoga kita akan sukses bersama petani dihari esok SEKIAN

ENERGY ALTERNATIF DAN RAMAH LINGKUNGAN

Bahan bakar atau energy merupakan kebutuhansalah satu dasar dari kehidupan, tanpa bahan bakar baik itu minyak, gas, kayu dasumber – sumber lain yang menghasilkan energy kita tidak bisa menjalankan roda kehidupan, selama ini untuk kebutuhan bahan bakar dimasyarakat luas mengandalkan bahan bakar fosil atau dikenal dengan bahan bakar minyak, batu bara dan gas, yang mana sumber bahan bakar tersebut jumlahnya semakin berkurang seiring dengan pesatnya pertumbuhan manusia yang mana secara otomatis akan meningkat pula kebutuhan bahan bakar, karena jumlah kendaraan bermotor baik mobil, kereta, sepeda motor dan sarana transportasi darat lainnya berkembang hampir tidak terkendali menyebabkan semakin besar pula kebutuhan bahan bakar minyak atau BBM, yang akhirnya kata BBM semakin populer dengan segala permasalahannya, demonstrsi oleh mahasiswa besar – besaran dan sampai korban jiwa atau luka – lukapun tetap dilakukkan untuk menekan harga BBM bisa dijangkau oleh masyarakat, Negarapun mempersiapkan APBNnya lebih dari 50% untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak, terlepas siapa sebenarnya yang menikmati subsidi BBM apakah yang punya mobil lebih dari 1, perusahaan – perusahaan besar atau bahkan perusahaan multinasional yang jelas intinya masyarakat menginginkan harga BBM semurah mungkin padahal untuk menentukan harga pemerintah harus mengeluarkan subsidi sampai ratusan trilyun yang notabene merupakan uang rakyat juga, jadi semakin rumitlah persoalan untuk memenuhi kebutuhan energi, ditambah lagi dengan banyaknya persoalan dan kepentingan yang mewarnai yang tidak mungkin cukup ruang tulisan ini untuk mengurainya.

Dibalik hiruk pikuknya dan carut marutnya persoalan pengadaan sumber energi tanpa disadari banyak sekali sumber – sumber energi disekitar kita yang belum dimaximalkan pemanfaatannya, memang diberbagai lembaga perguruan tinggi yang telah banyak melahirkan ide dan temuan – temuan sumber energi namun semua baru diatas kertas karena saya sendiri kurang paham apa karena kurangnya perhatian dari pemerintah atau kemalasan kita untuk menemukan sumber – sumber energi dari lingkungan disekitar kita, hanya kenyataannya sampai hari ini kurang lebih 6 tahun  setelah lembaga yang dirikan pemerintah melalu Inpres atau undang – undang entah apapun namanya saya pernah mendengar adanya lembaga kalau tidak salah bernama Badan Pengembangan Bahan Bakar Nabati yang kalau tidak salah juga diresmikan pada tahun 2006, yang mana sejak isyu tersebut banyak proyek yang dikeluarkan, banyak seminar diselenggarakn dan banyak pula penelitian yang diselenggarakan, pada waktu itu rame – rame pada cerita soal jarak pagar dan singkong yang pada akhirnya banyak pula teman – teman yang sekedar tahu mencoba mencari keberuntungan tanpa dipelajari teori dan tekhnisnya menginvestasikan modalnya yang tidak seberapa untuk meraih keuntungan dari adanya isyu Pengembangan Bahan Bakar Nabati ( BBN ), yang lama – lama kurang dari 3 tahun satu persatu runtuh dan bergurguran menjadi investasi yang mangkrak,

nah………  melalui tulisan yang sederhana ini saya mencoba untuk mengingatkan kembali pentingnya kita mengembangkan bahan bakar nabati atau bahan bakar ramah lingkungan sebagai sumber energi untuk kehidupan, saya menuliskan ini karena mendapatkan motifasi untuk bangkit kembali menggugah semangat teman – teman yang sudah seperti kehilangan semangat terutama yang malang melintang baru dapat malangnya dan yang ngurusi tetek bengek baru dapat bengeknya mari kita bangkit lagi dan semoga komitmen saya untuk konsen yang pada akhirnya dapat merekayasa beberapa tekhnologi yang akan digunakan untuk mencari energi energi alternatif yang ramah lingkungan

beberapa sumber energi yang telah saya dan teman – teman kembangkan adalah

BIO ETHANOL

Kata bio ethanol sudah tidak asing lagi dimasyarakat, cuma sayangnya belum ada yang bener – benar sukses masuk kedalam bisnis ini, banyak yang telah berinvestasi baik puluhan, ratusan juta rupaiah bahkan sampai milyaran namun hampir semua mengalami kebuntuan dan menjadi investasi mangkrak,

setelah melakukan uji coba dan bongkar pasang, mencoba dan selalu mencoba fasilitas destilasi bio ethanol selama 5 tahun lebih, akhirnya saya dapat mengeset fasilitas destilasi yang murah dan mudah pengopersionalannya dengan harapan tekhnologi ini bisa digunakan masyarakat luas dan pada akhirnya akan mengurangi ketergantungan bahan bakar minyak yang selama ini masih mengebor dari perut bumi atau bahan bakar fosil yang jumlahnya makin lama makin menipis

bersama Mr. Willey Smits tokoh inovator pengembangan bakar bakar ramah lingkungan

 

 

 

 

 

 

 

 

ini dia bahan bakar dari kebun

 

 

 

 

 

 

 

ini bahan bakar dari kebu ( Bio Ethanol )

Bio ethanol dapat dibuat dari bahan – bahan hasil pertanian Singkong, sorgum dan Nira Aren dan dapat dibuat dari limbah pabrik gula yaitu molasses ini yang sedang kami gencarkan karen kalau unitmesin kecil ini ada ditengah desa saya yakin tidak ada lagi kesulitan membeli bahan bakar fosil yang harus kekota dan sekarang makin mahal harganya dan langka barangnya
( soal cara membuatnya akan saya posting tersendiri )

BIO GAS

Bio Gas sebagai pengganti Elpiji yang sudah berhasil menggantikan minyak tanah untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar rumah tangga atau dapur masyarakat luas juga sudah mulai muncul masalah karena kekurangan pasokan padahal programnya baru berjalan 3 tahun, apa yang akan terjadi 15 tahun atau 20 tahu kedepan apa masih yakin suplaynya masih dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan siapa yang berani jamin, dari pada pusing siapa yang jamin apa salahnya kalau kita antisipasi dari sekarang untuk mencari atau membuat elpiji dengan memanfaatkan limbah ternak itung – itung ngurangi ongkos transportasi elpiji dari kota kepedalaman berikut ini gambaran tentang bio gas semoga menjadi inspirasi untuk membuat sendiri kalau kurang paham bisa bertanya hehehehe……

 

Gambar diatas adallah bentuk instalasi bio gas dan digester bio gas yang sudah siap digunakan, bicara soal bio gas sebetulnya bicara banyak hal yang berkaitan dari mulai peternakan sapi atau kerbau, pertanian organi dan kebutuhan dapur yang terjawab sekaligus, kita dapat bayangkan kalau disetiap pedesaan bisa menyatukan3 hal tersebut sungguh luar biasa masyarakat pedesaan tidak lagi bingung soal distribusi tabung gas elpiji yang kadang telat dan harganya juga buat berdebar – debar, beritanya kadang mau naik tapi masih bingung dan membuat resah masyarakat dipedesaan yang pendapatnya minim, akan tetapi dengan mengembangkan bio gas akan menjawab masalah energi untuk dapur, kebutuhan pupuk untuk pertanian dan meningkatkan nilai gizi karena ketersediaan daging dari ternak sapi atau kerbau, sungguh indah dan mengurangi ketergantungan apabila Bio Ethanol dan Bio gas dapat dikembangkan dimasyarakat pedesaan akan banyak mengurangi subsidi baik dari pupuk atau energi yang pada akhirnya akan menjadi DESA MANDIRI ENERGI DAN PUPUK berapa subsidi pemerintah yang akan dihemat, atau apabila subsidinya digunakan untuk merealisasikan program DESA MANDIRI ENERGI mungkin kedepan akan semakin ringan beban APBN negeri kita sehingga dapat digunakan untuk pembangunsektor lain untuk mendukung arah kesejahteraan masyarakat

( untuk tekhnis pembuatan digester bio gas akan saya posting lain waktu )

 

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKRO HYDRO

Kebutuhan listrik untuk penerangan juga salah satu energi yang belum maximal dirasakan khususnya bagi masyarakat dipedesaan yang jauh terpelosok, walaupun PLN berupaya untuk mensuplay listriknya kepelosok desa namun masih banyak permasalahannya adanya jaringan yang dicuri oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab dan hanya memikirkan nafsu sesaat dan masalah distribusi ketika iklim extrime muncul seperti musim penghujan lebih parah kalau disertai angin efeknya listri jadi byar pet atau makin sering mati, ditambah lagi kapasitas produksi PLN yang makin kekurangan karena jumlah kebutuhan tanpa diiringi dengan jumlahnya pembangkit walaupun sudah berupaya mati – matian akan tetapi tatkala debit air mengecil dimusim kemarau diakui atau tidak produksi jadi berkurang yang akhirnya ada jadwal pemadaman alias gantian, padahal disis lain banyak sekali dipedesaan terdapat sumber air yang walaupun kecil tersebar terutama dipedesaan lereng – lereng pegunungan sungguh ironis melihatnya disatu sisi kekurangan tapi banyak hal disekitar kita kurang diperhatikan, berikut ini contoh gambar pembangkit listri tenaga mikro hydro yang sudah terpasang walaupun kecil tapi dikelola profesional

 

 

 

( untuk tekhnis mikro hydro akan saya posting suatu saat nanti )

demikian sekelumit tulisan ini semoga bisa menjadi inspirasi kita bersama bahwa sebetulnya banyak hal yang ada disekitar kita yang belum dimanfaatkan secara maximal hanya karena kita berdalih tidak ada modal dan tidak ada perhatian dari pemerintah, karena saya yakin kalau kita berani mencoba dan mencoba sesuatu yang sulit akan ketemu juga jalan keluarnya kalau kita komitmen dan konsisten, terima kasih saya ucapkan kepada Mr. willei Smits dan Mr. Job Feitz yang telah memberikan saya motifasi semoga apa yang menjadi mimpi kita bersama terwujud yaitu mimpi DESA MANDIRI DAN SEJAHTERA sekian

ALUR PRODUKSI BAHAN BAKU SINGKONG

Untuk mengolah singkong menjadi aneka produk diawali  dari mengolah singkong menjadi tapioka seterusnya dapat dijadikan berbagai macam produk,  dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Tahap pertama singkong dikupas dan diparut selanjutnya diperas, maka akan mengakibatkan limbah yaitu kulit dan onggok, kulit dan onggok sebagai limbah sangat bagus untuk campuran pakan ternak terutama sapi, dan sapi akan mengeluarkan kotoran yang sangat berguna untuk pupuk pada penanaman singkong, Sebagian besar para petani di Kab. Semarang Jawa Tengah sudah terbiasa menanam singkong dan disebagaian daerah kecamatan sentra peternakan sapi perah, sehingga dari limbah singkong akan menambah nilai ekonomisnya.

2. Tahap kedua dari perasan menghasilkan sari pati atau tapioka basah, apabila dijemur akan menghasilkan produk tepung tapioka, dan kalau diproses dengan menggunakan enzim alfa amylase dan gluko amylase akan menghasilkan glukosa, adapun hasil glukosa bahan baku singkong adalah gula rendah kolesterol sangat berguna untuk kesehatan dan sekaligus memenuhi kebutuhan gula dengan harga yang lebih murah untuk menjawab kesulitan gula saat ini

3. Tahap ketiga dari glukosa sangat dibisa diproses menjadi bio ethanol untuk bahan bakar minyak (BBM) yang saat ini juga masih kesulitan dicarikan solusinya karena kebutuhan meningkat sementara cadangan minyak bumi cenderung turun

 

 

 

 

 

 

 

 

salah satu hasil singkong   dengan alat yang sangat sederhana, menghasilkan glukosa yang merupakan gula rendah kolesterol sangat bermanfaat untuk sumber pemanis yang sangat kitabutuhkan

 

 

 

 

 

 

 

 

dengan cara yang sangat mudah kita membuat pemanis yang sehat, kenapa kita mesti susah dan bingung saat gula mahal, dan mesti import dari luar kalau dapat buat sendiri kenapa harus beli

 

Kesimpulannya dengan singkong sebetulnya kita dapat membuat desa – desa mandiri, tidak perlu bingung soal gula, soal bahan bakar, soal pangan apalagi karena survai membuktikan didaerah wonogiri misalnya yang suka dan memiliki tradisi makan tiwul dari singkong ternyata usia penduduknya lebih panjang dan jarang terkena penyakit yang macam – macam, saya ketemu dengan orang tua yang jauh usianya dari saya sekitar 80 an tahun tapi saat diajak jalan kekebun saya kewalahan mengikut gerak dan jalannya,

maka dari itu sudah saatnya kita bangkit jangan ketinggalan dengan negara brazil dan thailand yang sebentar lagi benar – benar terwujud kemandirian negaranya karena singkong,

“SAATNYA ANAK SINGKONG BERPERAN UNTUK NEGERI”

SINGKONG DIUSIA 10 HARI

ini singkong usia 10 hari, hasil tekhnologi organik organik,

Tanaman singkong masih kurang di minati oleh masyarakat, padahal kalau dikelola dengan tekhnis yang benar pendapatan dari hasil panen perhektar bisa mencapai 25 juta sd 40 jt per 10 bulan, atau 2,5 juta sd 4 juta perbulan memang untuk mencapai hasil yang maximal diperlukan modal lebih besar akan tetapi dengan tekhnologi organik, akan meringankan modal untuk budidaya singkong, berikut hasil uji coba tanaman singkong dengan menggunakan organik

salah satu contoh begitu lebatnya calon umbi ini berpotensi bisa mencapai minimal 35 umbi dari 80 akar yang terlihat potensi beratnya perpohon bisa mencapai 20 sd 30 Kg, dibuat minimal sekali 15 ton klu 1 hektar 7.000 pohon berarti 105 ton dan klu harga minimal 500 rupiah berarti akan terima uang sebesar Rp. 52.500.000,-

begitu besar potensi yang dapat kita peroleh apabila kita benar-benar serius dalam mengembangkan budidaya singkong akan dapat mengembalikan kenyakinan kita bahwa dengan bertani kita dapat hidup lebih layak melebihi gaji pegawai atau karyawan dikota besar seperti yang menjadi gantungan harapan lulusan sarjana jaman sekarang

maka dengan organik yang bersumber limbah produksi bio ethanol mari kita bangkitkan pertanian Indonesia

Hasil panen singkong 100 ton perhektar